Palopo, 13 Januari 2011
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya” (QS. An-Nuur : 31)
![]() |
| Ratu Beatrix ketika berada di Qathar |
Ya, ayat Al-Qur’an di atas jelas dan tegas mewajibkan setiap muslimah mengenakan jilbab (“khumur” dalam bahasa Al-Qur’an). Alasannya untuk melindungi kaum hawa dari fitnah yang akan merendahkan harkat dan martabat mereka (hijab).
Namun di negeri ini, yang penduduknya mayoritas Islam, banyak sekali wanitanya tidak mengikuti tuntutan syariat tadi. Antara lain karena ”tidak biasa” (takluk pada trend mode), juga lantaran tak paham akan maksud dan tujuan mengenakan jilbab.Yang terakhir ini merupakan sebab yang paling utama. Hingga tampilan mereka di ruang publik sama saja dengan orang-orang non Muslim.Bahkan banyak diantara mereka menampilkan dirinya dengan busana yang lebih “syur” dari orang-orang bule sono.
Greert Wilders , tokoh utama Partai Kebebasan Negara Kincir Angin ( Belanda ), sangat senang bila kaum hawa gemar mengenakan busana ”minim” yang syur-syur itu.Sebab bagi Wilders busana syur-syuran menghargai kebebasan perempuan. Sikapnya ini ketahuan ketika ia menyaksikan Beatrix, Ratu Bangsa Belanda, mengenakan jilbab saat berkunjung di Masjid Syekh Zaid bin Sultan Qatar.Wilders kebakaran jenggot.
Menurut Wilders,”Beatrix membolehkan penindasan terhadap perempuan”.Apa hubungannya yah, antara jilbab dengan penindasan kaum perempuan? Ternyata Wilders menghubungkan “jilbab” dengan sejarah Eropa yang kelam di masa-masa Perang Salib tempoe doloe.
Kekalahan King Richard II oleh Sultan Saladin pada Perang Salib II misalnya, melahirkan gagasan “Islam agama yang disebarkan dengan pedang”. Dan diantara alasan lahirnya gagasan ini ialah “untuk membangkitkan patriotisme pemuda Eropa kala itu sudah drop,hingga bisa berpartisipasi dalam “crusade” berikutnya.Jadi “dendam kesumat” menjadi ruh logika wilders.
Selanjutnya Wilders mengaitkan antara “Jilbab” dengan “Islam”(asosiasi) . Dari nalar ini muncullah hasilnya berupa sylogisme ini; ” jilbab= Islam= agama penindas”. Selanjutnya dia menarik rumusan umum,”Karena Islam agama yang telah merampas dan menindas Bangsa Eropa maka wanita yang mengenakan jilbab merupakan cermin dari ketidak bedayaan kaum hawa terhadap ajaran Islam”.Cara fikir Wilder seperti ini bukan barang baru.Tapi produk lama yang dicopy paste oleh Wilders.
Apakah memang benar bahwa jilbab membatasi kebebasan wanita?
Kenyataan sesungguhnya berbicara lain.Para muslimah Eropa-Amerika yang muallaf (pindah ke Islam) ketika ditanya soal ini berucap,”Saya tak pernah mersa terganggu dengan jilbab yang Saya kenakan ini”.
Dan kebanyakan berpendapat ,”Saya justeru malu bila mengingat masa lalu, sering tampil setengah telanjang”.Berjilbab membuat saya lebih “mobile” dan tak canggung.Tak seperti dulu,dengan pakain bebas serba minim,orang sekeliling pelototin Saya.Yang membuat saya merasa risih, tak bebas dengan pakaian itu”.
Jadi pendapat Wilder adalah pendapat yang tidak mewakili realitas sesungguhnya, alias ASBUN , asal bunyi . Tidak adil dan jauh dari kebenaran objketif. Pendapat yang sengaja didirikan di atas ”ruh dendam warisan nenek moyang Eropa”, yang menelorkan “gerakan anti Islam”.
Sikap negatif Wilders terhadap Islam (Islam phobia) dan bermuatan kepentingan politiknya , semakin kentara saja manakala petinggi Belanda ke Israel.Para pejabat Belanda saat itu,terutama kaum laki, dengan rasa hormat, menyesuaikan diri dengan tradisi agama Yahudi.Mereka kemudian diberikan antara lain “maxima” (topi Yahudi) untuk dikenakan dikepala mereka.Tapi melihat pemandangan itu Wilders tak berkomentar apa-apa. Begitupun ketika melihat wisatawan asal negerinya berkunjung ke Gereja Katolik Itali, dimana mereka diharuskan menutup lengann.Lagi-lagi Wilders pura-pura nggak tahu hingga tak berkoar.
Wilders benar-benar pandai memanfaatkan “sentimen agama” dalam merebut simpati Belanda.Namun di sisi lain,Wilders menampakkan kedunguannya terhadap jilbab ini.Andaikata ia paham masalah jilbab ia akan semakin mencintai Bunda Maria.
Bukankah Bunda Maria (Siti Maryam) sepanjang hayatnya selalu berhijab dengan mengenakan “jilbab” yang membuat dirinya pantas duduk di atas tahta suci kaum hawa di masanya?.

No comments:
Post a Comment