Friday, January 13, 2012

BUSANA SYUR-SYURAN DI MATA WILDERS

Oleh:Pettarani

Palopo, 13 Januari 2011



“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya” (QS. An-Nuur : 31)

Ratu Beatrix  ketika berada di Qathar
Ya, ayat Al-Qur’an di atas  jelas dan tegas  mewajibkan setiap muslimah  mengenakan jilbab (“khumur” dalam bahasa Al-Qur’an).  Alasannya untuk  melindungi kaum hawa dari fitnah yang  akan merendahkan harkat dan martabat mereka (hijab).

Namun di negeri ini, yang penduduknya mayoritas Islam,  banyak sekali  wanitanya   tidak mengikuti tuntutan syariat  tadi. Antara lain karena  ”tidak biasa” (takluk pada trend mode), juga lantaran tak paham akan maksud dan tujuan mengenakan jilbab.Yang terakhir ini merupakan sebab yang paling utama. Hingga tampilan mereka di ruang publik  sama saja dengan orang-orang non Muslim.Bahkan banyak diantara mereka  menampilkan dirinya dengan busana yang lebih “syur”  dari orang-orang bule sono.


Greert Wilders , tokoh utama  Partai Kebebasan Negara Kincir Angin ( Belanda ), sangat senang bila kaum hawa gemar  mengenakan busana  ”minim” yang syur-syur itu.Sebab bagi Wilders busana  syur-syuran menghargai kebebasan perempuan. Sikapnya ini ketahuan ketika ia menyaksikan  Beatrix, Ratu Bangsa Belanda, mengenakan jilbab saat berkunjung di Masjid Syekh Zaid bin Sultan Qatar.Wilders kebakaran jenggot.

Menurut Wilders,”Beatrix membolehkan penindasan terhadap perempuan”.Apa hubungannya yah, antara jilbab dengan penindasan kaum perempuan? Ternyata  Wilders  menghubungkan “jilbab” dengan sejarah Eropa yang kelam di masa-masa Perang Salib tempoe doloe.

Kekalahan King Richard II oleh Sultan Saladin pada Perang Salib II misalnya, melahirkan gagasan “Islam agama yang disebarkan dengan pedang”. Dan diantara alasan lahirnya gagasan ini ialah “untuk membangkitkan patriotisme pemuda Eropa kala itu sudah drop,hingga bisa berpartisipasi dalam “crusade” berikutnya.Jadi “dendam kesumat” menjadi ruh  logika wilders.

Selanjutnya Wilders mengaitkan antara “Jilbab” dengan “Islam”(asosiasi) . Dari nalar ini muncullah hasilnya berupa sylogisme  ini; ” jilbab= Islam= agama penindas”.  Selanjutnya dia menarik rumusan  umum,”Karena Islam agama yang telah merampas dan menindas Bangsa Eropa maka wanita yang mengenakan jilbab merupakan cermin dari ketidak bedayaan kaum hawa terhadap ajaran Islam”.Cara fikir Wilder  seperti ini bukan barang baru.Tapi produk lama yang dicopy paste oleh Wilders.

Apakah memang benar bahwa  jilbab membatasi kebebasan wanita?

Kenyataan sesungguhnya berbicara lain.Para muslimah Eropa-Amerika yang muallaf (pindah ke Islam) ketika ditanya soal ini berucap,”Saya tak pernah mersa terganggu dengan jilbab yang Saya kenakan ini”.

Dan kebanyakan berpendapat ,”Saya justeru malu bila mengingat masa lalu, sering tampil setengah telanjang”.Berjilbab membuat saya lebih “mobile” dan tak canggung.Tak seperti dulu,dengan pakain bebas serba minim,orang sekeliling pelototin Saya.Yang membuat saya merasa risih, tak bebas dengan pakaian itu”.

Jadi pendapat Wilder adalah pendapat yang tidak mewakili realitas sesungguhnya, alias ASBUN , asal bunyi . Tidak  adil dan  jauh dari   kebenaran objketif. Pendapat yang sengaja didirikan  di atas  ”ruh dendam warisan nenek moyang Eropa”,  yang menelorkan   “gerakan anti Islam”.

Sikap negatif Wilders terhadap Islam (Islam phobia)  dan bermuatan kepentingan  politiknya , semakin kentara saja  manakala  petinggi Belanda ke Israel.Para pejabat Belanda saat itu,terutama kaum laki, dengan rasa hormat, menyesuaikan diri dengan tradisi agama Yahudi.Mereka kemudian  diberikan   antara lain “maxima” (topi Yahudi) untuk dikenakan dikepala mereka.Tapi  melihat pemandangan itu  Wilders tak berkomentar apa-apa. Begitupun ketika melihat  wisatawan asal negerinya  berkunjung ke Gereja Katolik  Itali, dimana mereka  diharuskan menutup lengann.Lagi-lagi Wilders pura-pura nggak tahu hingga tak berkoar.

Wilders benar-benar pandai memanfaatkan “sentimen agama” dalam merebut simpati Belanda.Namun di sisi lain,Wilders  menampakkan kedunguannya terhadap  jilbab ini.Andaikata ia paham masalah jilbab ia akan semakin mencintai Bunda Maria.

Bukankah Bunda Maria (Siti Maryam) sepanjang hayatnya selalu berhijab dengan mengenakan “jilbab” yang membuat dirinya pantas duduk di atas  tahta suci kaum hawa di masanya?.

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.