Wednesday, January 4, 2012

BEROTAK JERMAN BERHATI MAKKAH; Komentar terhadap tulisan pendukung DR.Sri Mulyani Sebagai Capress 2014 Dalam Kompassian


Oleh; Pettarani
Palopo, 14 Agustus 2011


Saya teringat  akan  kata-kata Mantan Presiden RI Ke-3,  BJ Habbie, ” Berotak Jerman (BJ) dan Berhati Makkah(BM)” . Banyak orang di negeri ini berotak cemerlang,  namun pelit, rakus dan  gemar maiin hantam kromo dalam  mengejar kekayaan dunia. Tak heran jika Habibie bercita-cita   mencetak SDM unggul  model BJBM  di Negeri ini. Tentu, agar bangsa dan negara ini,  dalam 50 thn ke depan,sudah dapat disejajarkan  dengan Korea atau Taiwan  di  beberapa aspek kehidupan.

Tapi bagi Saya, typical SDM Habibie itu masih kurang. Agar lengkap mesti tambah satu frase lagi. Apa itu ? Frase, ”Kaki Indonesia” . Lengkapnya, SDM berotak Jerman, berhati Makkah , dan berkaki Indonesia. Mengapa harus tambah   kaki Indonesi?

Bangsa dan   Negara ini suda  banyak berjasa dalam  mencetak SDM   model Habibie.Namun  kebanyakan kaki   mereka   tak tertancap di bumi negerinya.Mereka lebih senang membenamkannya    ditanah  asing milik bangsa lain. Daripada kere di negara sendiri, lebih baik hidup kaya di negara orang . Mereka telah kehilangan nasionalisme karena ulah pemimpin bangsanya sendiri yang tak mau ambil pusing dengan nasib anak-anak bangsa ini. Pragmatis dan simple pikiran mereka.

Apakah hubungannya semua itu dengan DR.  Sri Mulyani  Indrawati ( selanjutnya disebut SM ) ?

Sang Doktor ber-otak Emrik, itu tak dipungkiri !.Apakah dia berhati Makkah ?Untuk ini kita musti melihat cara SM berfikir tentang bagaimana negara mensejahterakan rakyatnya.Kalo kita sering menyimak pikiran SM,terutama dalam ranah ekonomi politik,maka jawaban atas pertanyaan tadi adalah tidak.SM tak berhati Makkah, tapi berhati Emrik,sono.Bagaimana bisa dikatakan hahwa SM berhati Makkah, wong riba saja diimani sebagai anasir pertumbuhan. Subsidi BBM lagi, ia tolak karena merusak kompetisi dalam pasar bebas. Padahal subsidi  ini  punya maksud baik, membantu meringankan biaya operasional hidup seharian  rakyat menengah bawah hingga ke akar rumput . Politik ekonomi SM ialah, negara harus cuek pada rakyat yang butuh subsidi (memperlemah secara ekonomi sosial rakyak), tapi peduli pada kapitalis (tambah memperkuat posisi kaum kaya raya pemilik modal).Negara harus membesarkan kapitalis dengan membiarkan rakayat banyak yang telah miskin semakin miskin tanpa peduli.

Ya,  sang Doktor berjiwa kapitalis-liberal !

Jika Jiwa sesorang telah bulat mempercayai bahwa, gagasan liberal kapitalis adalah gagasan yang benar . Karenanya harus diterima dan dilaksanakan, bagaimana mungkin jiwa seperti ini memiliki nasionalisme yang kuat sedangkan Pancasila notabene adalah idiologi anti kapitalisme dan libaralisme? Hmmm...Andai saja  sang Doktor hidup di masa Bung Karno, mau tak mau, ia  pasti akan menerima kata-kata kasar dari sang Proklamator ,"Sampean  antek-antek kapitalis keblinger toh!".

Adalah fakta sejarah  yang menyakitkan bahwa, sekitar    350 tahun kaki kolonialisme tertancap  di bumi nusantara. Fakta yang sekaligus memberi tahukan,  betapa kaum  kapitalis libaralis merupakan  binatang yang paling  berbahaya di muka  bumi  ini. Mereka jauh lebih sesat dari binatang ternak (QS : 7 : 179).Maka jangan terlalu berharap uluran  tangan kaum  kapitalis .Kalaupun ia memberikan anda satu keping uang,  itu karena ia ingin mengambil dua keping dari anda.Di bawah kaum kapitalis  maka yang ada hanya kemiskinan dan penderitaan bagi rakyat banyak.

Daripada Saya tersesat menuju jalan-Nya maka Saya memutuskan untuk tidak mengikuti SM.





No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.